Skip to main content Skip to main navigation menu Skip to site footer

Pasien obesitas berat yang menjalani operasi nefrolitotomi perkutaneus bilateral pada posisi pronasi: Sebuah laporan kasus

Abstract

Obese patients have higher cardiopulmonary risk during surgery, especially in the prone position. Proper anesthetic management provides better cardiopulmonary compliance. A morbidly obese 47 years old man (body mass index of 46.1 kg/m2) presented with bilateral staghorn stones was scheduled for bilateral percutaneous nephrolithotomy surgery in the prone position. The patient was put into a prone position, taking care that paddings were placed on the face, chest, and hips, and also positioned to prevent abdominal compression. His vital signs were monitored, and arterial blood gas and urine output were regularly evaluated. Prone position decreased cardiac index, which reflected in decreased stroke volume. Metabolically active adipose tissue leads to increased oxygen consumption. Chest wall compliance reduces ±30% due to the massive mass of the chest wall, increased pulmonary blood volume, and splinted diaphragm. Functional residual capacity decreases more in prone position because of the work of gravity in mediastinal and abdominal contents and the shape of the chest wall. Paddings must be placed on the chest and hip in order to release abdominal pressure. Generally, the prone position is better for morbidly obese patients, as long as we secure the airway, maintain stable hemodynamic during surgery, and use proper padding to avoid abdominal compression. These steps result in a better impact on patient outcome.

 

Pasien obesitas memiliki risiko kardiopulmoner lebih tinggi dibandingkan non-obesitas selama operasi. Risiko ini lebih tinggi bila pasien berada dalam posisi pronasi. Menariknya, manajemen anestesi yang tepat secara dramatis membuat pasien obesitas memiliki komplians kardiopulmoner lebih baik. Di sini kami menjelaskan manajemen anestesi yang telah berhasil menangani masalah ini. Seorang pria berusia 47 tahun, obesitas berat dengan IMT 46,1 kg/m2, datang dengan keluhan batu staghorn bilateral yang direncakan untuk operasi nephrolithotomy perkutan bilateral dalam posisi pronasi. Untuk mengamati hemodinamik selama operasi kami memasang dan arteri line. Setelah diintubasi, kami memasukkan kasa di sekitar tabung endotrakeal sebagai packing. Pasien lalu diposisikan pronasi; bantalan ditempatkan di dada dan abdomen bawah cukup jauh untuk mencegah kompresi abdomen. Semua titik-titik tekanan dialasi dengan gulungan kapas sebagai bantalan. Kepala ditempatkan pada bantalan kepala gel untuk menghindari kompresi mata. Tanda-tanda vital dipantau secara berkesinambungan selama operasi; analisa gas darah arteri, tekanan vena sentral, jumlah urine, dan glukosa darah diperiksa. Posisi pronasi menurunkan indeks jantung sebesar ± 24% yang mencerminkan penurunan stroke volume. Jaringan adiposa aktif secara metabolik menyebabkan peningkatan konsumsi oksigen. Komplians dinding dada berkurang sebesar ± 30% karena bobot dinding dada yang berat, peningkatan volume darah paru dan terbatasnya gerakan diafragma. Menariknya, kapasitas residu fungsional pasien obesitas pada posisi terlentang lebih rendah dibandingkan pasien obesitas pada posisi pronasi. Hal ini disebabkan adanya gaya gravitas terhadap isi mediastinum dan abdomen, juga bentuk dinding dada. Inilah sebabnya mengapa pemasangan bantalan penting untuk posisi pronasi dengan tujuan menghindari kompresi abdomen. Secara umum, posisi pronasi lebih baik untuk pasien obesitas, selama kita dapat mengamankan jalan napas selama operasi, mempertahankan stabilitas hemodinamik selama operasi, dan memasang bantalan yang tepat untuk menghindari kompresi abdomen. Langkah-langkah ini dapat memberikan dampak yang besar untuk pasien.

References

  1. DAFTAR PUSTAKA
  2. Butterworth JF, Mackey DC, Wasnick JD. Morgan & Mikhail’s Clinical Anesthesiology, Edisi ke-5. Newyork : Mc Graw Hill; 2013. h. 741-743.
  3. Guyton AC, Hall JE. Textbook of Medical Physiology. Edisi ke-11. Philadelphia : Elsevier; 2006. H. 865-80.
  4. Hines RL, Marschall KE. Stoelting’s anesthesia and coexisting disease, Edisi ke-6. Philadelphia : Saunders; 2012.
  5. Douglass J, Fraser J, dan Andrzejowski J. Awake intubation and awake prone positioning of a morbidly obese patient for lumbar spine surgery. Anaesthesia. 2014; 69: 166-9.
  6. Takrouri MSM, Shubbak F, Musrea KA, dan Ghanem N. Problems faced during anesthesia in morbidly obese patient with cervical injury presented for fixation in prone position. The internet journal of anesthesiology. 2008; 19 (2): 1-5.
  7. Edgcombe H, Carter K, dan Yarrow S. Anaesthesia in the prone position. British Journal of Anaesthesia. 2008; 100 (2): 165-83.
  8. Neill TO, Allam J. Anaesthetic considerations and management of the obese patient presenting for bariatric surgery. Current anesthesia and critical care. 2010; 16-23.
  9. Roth R. Effective use of an algorithm for extubation in a morbid obese patient with obstructive sleep apnea. European Journal of Anaesthesiology. 2012; 29: 244.

How to Cite

Ryalino, C., & Roostati, R. L. (2020). Pasien obesitas berat yang menjalani operasi nefrolitotomi perkutaneus bilateral pada posisi pronasi: Sebuah laporan kasus. Medicina, 51(2). https://doi.org/10.15562/medicina.v51i2.688

HTML
172

Total
243

Share

Search Panel