Skip to main content Skip to main navigation menu Skip to site footer

Abstract

Latar Belakang. Demam berdarah adalah penyakit virus yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti, secara global penyebaran penyakit ini  50 sampai 100 juta kasus per tahun dengan case fatality rate/CFR 5%. Saat ini 2,5 sampai 3 miliar penduduk dunia tinggal di daerah endemik DBD termasuk Indonesia. Bentuk lebih parah demam berdarah dengue (DBD), dengue shock syndrome (DSS) dapat menyebabkan kematian 10 kali lebih tinggi dibandingkan tanpa DSS.

Tujuan. Mengetahui faktor risiko yang mempengaruhi terjadinya DSS pada pasien DBD yang dirawat di Rumah Sakit Sanglah Denpasar pada tahun 2015.

Subyek dan Metode. Total sampel 78 pasien terdiri dari 39 DBD dan 39 pasien DSS yang masuk ke Instalasi Gawat Darurat (IGD) Rumah Sakit (RS) Sanglah periode 1 Januari 2015 sampai 31 Desember 2015. Penelitian ini merupakan studi observasionaal analitik dengan pengamatan potong lintang.

Hasil. Pasien DSS, 59% laki-laki dan 41% perempuan,dengan usia rata-rata 27,74 ± 14,92 tahun. Pada pasien non DSS terdapat 43,6% laki-laki  dan 56,4% perempuan dengan usia rata-rata 26,74 ± 10,87 tahun. Outcome pada pasien DSS 84,6% pasien bertahan hidup dan 6 orang meninggal (15,4%), sedangkan pada pasien non DSS 100%  bertahan hidup. Pada analisis data, menunjukkan hubungan bermakna antara DSS dengan alamat tempat tinggal pasien di luar Denpasar (r = 6,42; p = 0,00), pasien rujukan (r = 4,25; p = 0,00), durasi demam pada hari keempat atau lebih (r = 7,12; p = 0,00), hemokonsentrasi (r = 4,34; p = 0,04), trombosit di < 50.000 sel/mm3 (r = 5,01; p = 0,01).Kesimpulan. Pada penelitian ini terdapat hubungan bermakna antara DSS dengan alamat tempat tinggal pasien di luar Denpasar, pasien rujukan, lama demam ketika datang ke IGD Rumah Sakit Sanglah pada hari keempat atau lebih, hemokonsentrasi, trombosit <50.000 sel/mm3  

References

  1. Bandypahya S, Lum LCS, Kroeger A. Classififying Dengue, a review of the difficulties in using the WHO case classification of Dengue haemorrhagic fever. Trop Med International Health. 2006; 11: 1238-55.
  2. Departemen Kesehatan RI. Tata Laksana Demam Berdarah Dengue di Indonesia. 2006:23-38.
  3. Kementrerian Kesehatan RI. Profil Kesehatan Indonesia Tahun 2014. Jakarta: Sekretariat Jendral. 2015: 54.
  4. WHO. Comprehensive Guidelines for Prevention and Control of Dengue Hemorrhagic Fever. Wolrd Health Organization-South East Regional Office.2011;3:1-67.
  5. Subahagio. Menentukan Faktor-faktor Risiko Dominan Kejadian Sindrom Syok Dengue pada Penderita DBD. Pelita Pub. 2009; 3:35-48.
  6. Harisnal. Faktor-Faktor Risiko Kejadian Dengue Shock Syndrome Pada Pasien Demam Berdarah Dengue Di RSUD Ulin dan RSUD Ansari Saleh Kota Banjarmasin Tahun 2010-2012. FKM UI. 2014:49-55.
  7. Tantracheewathorn T. Risk Factor of Dengue Shock Sundrome in Children. J Med Assoc Thai. 2007; 90(2): 272-7.
  8. Notoatmodjo S. Ilmu Perilaku Kesehatan. Rineka Cipta. 2012; 4:27-45.
  9. Nurhayati Desian. Perbedaan Nilai Maksimum Minimum Protein Plasma Hematokrit dan Trombosit. Universitas Gajah Mada. 2004:18-24.
  10. Ita Perwira. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Lama rawat Inap Pada Pasien yang Terinfeksi Virus Dengue Di RSUP Persahabatan Jakarta Timur. Universitas Indonesia. 2011:35-46.

How to Cite

Lestari, K. D. (2018). Faktor risiko kejadian dengue shock syndrome pada pasien demam berdarah dengue di RSUP Sanglah Denpasar Tahun 2015. Medicina, 49(3). https://doi.org/10.15562/medicina.v49i3.383

HTML
92

Total
73

Share

Search Panel